PASAR SENGGOL 2011 - SEDERHANA TAPI MANIS

Belajar dari kegagalan tahun sebelumnya, penyelenggaan tradisi grebeg Maulid oleh warga masyarakat di sekitar Pasar Selang dilakukan dengan cara sederhana.

ULASAN DEWAN JURI FESTIVAL TEATER KEBUMEN 2010

Festiva; Teater Kebumen 2010 adalah festival teater umum dan pelajar pertama di Kabupaten Kebumen yang diselenggarakan oleh FoPSeT dan Masjid Raya di Gedung Haji Jl. Veteran Kebumen.

MENGGENGGAM DUNIA (I)

Sebuah fiksi yang diangkat dari cerita kematian Elang Surya Lesmana. Mahasiswa dan relawan PMI di Universitas Trisakti Jakarta yang memicu kemarahan mahasiswa dalam mempercepat Gerakan Reformasi 1998. Cerita ini juga menginisiasi #RUUKepalangmerahan

KONSPIRASI HATI

Gerakan relawan PMI untuk pengesahaan #RUUKepalangmerahan adalah Konspirasi Hati para Relawan PMI se Indonesia yang memandang proses pembahasan kewajiban negara RI atas ratifikasi Konvensi Jenewa 1949 itu harus dilakukan dengan sebuah kesadaran bersama.

PELUKAN SANG PELANGI-FILM INDIE PERTAMA DI KEBUMEN

Pelangi penuh warna dan warna itu terwakili oleh semua orang yang terlibat dalam penggarapan film indie pertama di Kebumen yang berjudul Pelukan Sang Pelangi. Disutradarai Theo Deka Wardhana dan Putut AS.

Selasa, 24 Desember 2013

Konspirasi Hati



Tak pernah melintas dalam benak aku akan melakukannya 
hari hari yang begitu syahdu, 
terdiam dalam hening jiwa

Tapi suara itu
tajam menyayat kalbu
jiwa merdeka kan bangkit
Atur lagi langkah-langkah tertunda
hing jiwa tanpa prasangka

Debu-debu jalan seakan kian membisu
dalam keramaian suasana
hiruk pikuk manusia angkara
Membakar jiwa-jiwa ternista
oleh para pendusta yang hina dina
Memakan bangkai saudaramu
yang terkapar di tengah arena
hiruk pikuk para durjana penjajah bangsanya
Amarah membara tiada berarah

Katamu... ini gerakan perubahan
dari tirani yang membelenggu seluruh negeri
Di bawah todongan senjatan berperedam
agar semua aman dan terkendali

Elang Surya Lesmana ...nama itu
anak Trisakti dan relawan PMI
Saat bertugas suci
di tengah panas terik dan kobaran api amarah
Ia berlari dan kembali bawa korban gerakan reformasi
yang ditembak serdadu tak tahu diri
Ia pun jadi korban tembak lari
ketika semua politisi bernyanyi satu lagu pilu menyayat hati
Jasad Elang jadi penghuni peti es berbingkai korban politik
bukan satu pelanggaran hak asasi berat
Yang akan jadi insiden internasional
merugikan banyak petinggi negeri

Elang-elang baru kini muncul dalam satu barisan rapi
Relawan PMI tak lagi berdiam diri
Saat pedagang sapi penjual negeri ingin dihargai
setara dengan syuhada negeri
Memang tak tahu diri.........

Di mana kalian saat revolusi kemerdekaan negeri berapi ?
Ikut Soekarno - Hatta atau kompeni ?
atau bersembunyi di goa sepi ?
Apapun itu...kami tak peduli

Bagimu negeri.. kami berjanji
demi kemanusiaan sejati 
sepanjang hayat dikandung badan
Bagimu negeri..kamiberbakti
bagi kesamaan yang hakiki
Bagimu negeri ...kami mengabdi
dengan kemandirian yang menyertai 
setiap langkah itu juga 
netral...
sukarela...
satu 
dan semesta

Karena kami satu nurani
konspirasi hati menjalin tali temali
ketaatan pada asas
dan ketetapan dalam satu tujuan
Konspirasi hati tak lekang oleh ambisi
tak juga larut dalam eforia
Konspirasi hati membalut sanubari
dalam jiwa yang mandiri


 
 

Selasa, 13 Agustus 2013

BATIN SEORANG RONGGENG


Oleh: Sutriyono

Tasem Atmareja merentang tangan seperti hendak menari. Lensa kamera digital yang semula hendak dipasang untuk mengambil close up wajah pun diundurkan. Akhirnya seluruh badan yang diambil. Ini kesempatan langka karena pada awalnya untuk bertutur mengenai riwayat hidupnya pun Tasem terkesan menghindar.
“Ternyata masih cantik. Masih ada kasihe,” katanya ketika melihat hasil jepretan. Kasihe adalah daya tarik pada yang memandang. Tasem yang telah berumur 60-an masih melihat aura kecantikan pada wajahnya di kamera. Ia mengenakan baju tipis lengan panjang warna coklat muda. Rambutnya berselubung kain penutup. Daya tarik itu pertanda bahwa Indang Kastinem masih menemani dan melindungi dirinya.

Indang adalah roh yang oleh para ronggeng dan masyarakat setempat diyakini mampu merasuk ke dalam diri seseorang yang ‘meminta’ atau mendapatkan ‘anugerah’. Kastinem adalah nama seorang ronggeng yang entah hidup pada tahun berapa dan rohnya tinggal di sekitar Desa Gerduren Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Sehingga perpaduan Indang Kastinem menjadi daya dukung spiritual bagi para ronggeng di desa tersebut.
“Waktu saya kecil, saya tinggal di pinggir desa dekat hutan. Saya sering mendengar suara tetabuhan lesung di Bukit Garut. Tetapi kalau didekati ya, tidak ada orangnya,” tutur Tasem.

Desa Gerduren dilingkupi bukit pada sisi utara, timur dan barat. Sisi selatan dipisahkan oleh Sungai Tajum, dekat dengan jalan raya Purwokerto-Bandung. Di salah satu titik ruas jalan Purwokerto-Bandung itulah budayawan Ahmad Tohari tingal yang dari tangannya lahir novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk dan diterjemahkan lebih dari lima bahasa. Tempat tinggal Ahmad Tohari hanya terpisahkan oleh Sungai Tajum dengan Desa Gerduren, sebuah desa yang menyimpan dinamika kehidupan Ronggeng tua di wilayah Kabupaten Banyumas.

“Samben Kemis ngadeg. Meja itu tingginya sedada saya,” papar Tasem. Ia bertutur mengenai masa kecilnya ketika mulai berkenalan dengan dunia ronggeng. Kala itu dirinya sedikit lebih tinggi dari meja 80 centimeter. Usianya sekitar 8 tahun. Setiap Kamis malam, tatkala kelompok ronggeng di desanya latihan, ia ikut serta ditengah-tengah mereka. Sekedar membantu persiapan atau bersih-bersih selepas latihan. Sebagai seniman, Tasem ditempa oleh alam desa dan lingkungan sosialnya.
Inisiasi itu dimulai ketika teman dan orang-orang dewasa menilai suara Tasem bagus. Ia bias menirukan lagu-lagu seorang ronggeng. Seorang ronggeng tua lantas datang dari belakang sambil memegang kusan, alat menanak nasi berupa anyaman bambu berbentuk kerucut. “Krep, krep, krep, ping telu,” kata sang ronggeng tua seraya menangkupkan kusan ke kepala Tasem. Tiga kali kusan itu ditangkupkan ke kepala gadis kecil Tasem. “Itu biar tidak malu,” katanya.

Dalam keseharian, kusan hanya ada di dapur. Ruang yang menjadi tempat keseharian perempuanperempuan Jawa. Ketika tidak terpakai, kusan yang sudah bersih dicuci itu akan diletakkan dalam posisi menelungkup. Ujung runcing di bagian atas. Tetapi ketika kusan itu dipakai, ujung runcing di bawah, di dalam dandang, dan bertugas menyelesaikan pekerjaan panci atau kuali yang menanak beras menjadi nasi setengah matang. Di kusan di dalam dandang dengan diuapi air mendidih itulah nasi setengah matang selanjutnya dituntaskan menjadi nasi – atau kadang menjadi tumpeng.

Di dalam tradisi ronggeng Desa Gerduren, kusan yang hanya di dapur itu dibawah ke ruang publik. Dalam posisi telungkup, kusan menangkup kepala gadis kecil calon ronggeng.  Kusan sebagai alat menanak nasi makanan pokok untuk kehidupan, digunakan untuk srana atau alat antara membangkitkan kepercayaan diri. Itulah sarana untuk menjadikan seorang perawan desa yang barangkali hanya mengenal dapur dan tanah lahan-lahan bukit serta sawah menjadi berani tampil di depan publik, keluar dari Desa Gerduren yang terpencil. Keliling desa-desa, menari dan menyanyi. Tidak malu. Laku matiraga dijalani Tasem. Pada malam-malam tertentu ia mandi di tujuh sumur tua. Laku itu dimulai selepas tengah malam, ketika tamutamu pemuda dari desa-desa tetangga yang hendak melihat pesona lengger Desa Gerduren sudah pulang.
Beranjak dari satu sumur, di situ ia mandi. Lantas, ketika sudah kering, berangkat lagi ke sumur berikutnya. Demikian seterusnya, menyusuri jalanan setapak desa. Meskipun dingin, terus dijalani. Meskipun lelah, kaki terus melangkah. Biasanya subuh baru tuntas. Ketika mandi, disertai juga dengan doa-doa. Laku mandi tujuh sumur tersebut disertai juga laku puasa atau pantang.

Demikianlah, adakah yang lebih berharga bagi kehidupan selain air? Air adalah sumber kehidupan. Tujuh sumur tua itu menjadi sumber pengharapan bagi Tasem. “Bot-bote pengin dikasihi Mas,”kata Tasem dengan maksud menjelaskan daya pesona seorang ronggeng terpancar karena laku mandi dini hari hingga subuh itu dijalani. Dengan daya pesonanya, Tasem dan kelompok ronggeng Desa Gerduren menerima permintaan pentas tiada henti. Itu juga berarti Tasem mendapatkan sejumlah rupiah.

Sumur tua adalah mata air di sudut-sudut pekarangan atau di ujung bawah bukit yang dirimbuni pohon bambu. Tak ada pasangan bata-semen di situ, hanya cekungan tanah yang digenangi air yang tak pernah habis. Diameternya antara 1-2 meter. Beberapa mata air mengalir persis di bawah pohon beringin atau pohon bulu besar. Tasem dan ronggeng lain mengatakan, mata air itu telah ada sebelum dirinya lahir.
Beberapa sumur bahkan sebenarnya juga sumber air keseharian beberapa keluarga di sekitarnya. Ketika kemarau panjang, sumur-sumur itu menjadi rujukan masyarakat setempat untuk mendapatkan air. Bersama penghargaan akan sumur-sumur tua, Tasem dan masyarakat Desa Gerduren menghargai pohon.
Di bukit Garut, sisi utara desa setempat, dulu masyarakat mengenali dua pohon bulu besar. Pohon tersebut mirip pohon beringin. Pada pohon yang di puncak bukit, diyakini berdiam roh Kakek Garut.  Sementara satu lagi yang terletak sedikit lebih ke bawah dari bukit tersebut, diyakini menjadi rumah tinggal roh Indang Kastinem. Kakek Garut diyakini semacam kamitua ronggeng dan Kastinem adalah ronggengnya.
Seseorang telah membakar pohon bulu tersebut. Belakangan, seniman ronggeng generasi selepas Tasem menanam pohon bulu kembali di dua titik bekas pohon terdahulu. Alam dan pohon adalah berkat bagi para ronggeng seperti Tasem.

Menjelang pentas Selasa Kliwon, Tasem minum air kelapa muda. Bukan sembarang kelapa muda tetapi jenis kelapa hijau. Buahnya dipilih dari tangkai yang menjulur ke timur. Seekor cacing gelang direndam terlebih dahulu dalam air kelapa muda itu. Sehari kemudian baru diminum. Ronggeng sekarang di sebuah perayaan Kabupaten Banyumas. Mereka tidak menjalani laku
matiraga seperti Tasem.
Dua cucu Tasem di Sumur Sepi, salah satu mata air yang digunakan untuk mandi ronggeng.
 “Rekasa, ora sugih seprene kur nggo riwayat thok,” kata Tasem. Laku dan tirakat seorang ronggeng bagi Tasem tidaklah ringan, juga tidak membuatnya menjadi kaya secara materi. Tetapi ia tidak mengelak ketika ditanya bahwa hal itu membuat dirinya gembira. Ia dipuja ketika pentas.
Keterangan Warsun, penduduk setempat yang segenerasi dengan Tasem menggambarkan bagaimana gairah kaum muda memuja para ronggeng. Ketika para ronggeng pentas di satu desa tetangga, maka dalam beberapa hari berikutnya anak-anak muda di desa tersebut berduyun-duyun ke Desa Gerduren. Bertamu ke tempat para ronggeng tersebut dan mencoba meraih hatinya. “Saya biasanya diminta teman saya mengawasi tamu,” kata Warsun.

Tasem sendiri menikah dengan Atmareja pada tahun 1953. Pemuda desa setempat, anggota Organisasi Perlawanan Rakyat (OPR) yang kelak pada tahun 1979 menjabat sebagai polisi desa. Sebelum menikah, Atmareja menyusul kemanapun Tasem pentas.
Ia heran dengan keberanian Atmareja. Tidak takut dimusuhi anakanak muda setempat. Walau dirinya tahu Atmareja menyukainya, waktu itu ia belum mau menanggapi. Atmareja terus saja mengikuti kemana ia pentas.
“Ya hanya ikut di antara penonton. Ketika saya sudah melihat sosoknya, lantas menyingkir.” tambah Tasem.
Selain menari sambil menyanyi, dalam pementasan seorang ronggeng juga melayani tayub. Dalam tayub, seorang pria akan menari berpasangan dengan ronggeng. Tarian ini dimulai dengan tawaran ronggeng.

Ia membawa soder atau selendang untuk menari. Soder tersebut diletakkan di atas piring. Sang ronggeng berjalan ke arah pria sasaran. Kepadanya diberikan soder, sementara si pria menaruh sejumlah uang ke dalam piring tersebut. Urutan para pria yang menari mengikuti derajat kepangkatan mereka. Bila di situ ada camat, maka camatlah yang ditawari terlebih dahulu, baru perangkat-perangkat di bawahnya. Bila yang hadir di situ paling tinggi lurah, maka lurahlah yang ditawari untuk tayub lebih dulu.

“Mereka tidak menolak, karena hadir di situ artinya bersedia ikut nayub,” kata Tasem.
Biasanya para istri pejabat desa juga hadir di situ. Tidak ada yang cemburu dengan tayuban suaminya. Beberapa ronggeng Desa Gerduren diperistri pejabat perkebunan atau aparat kepolisian, pria-pria yang memiliki derajat dan pangkat lebih tinggi dari pada umumnya penduduk Gerduren. Maka ronggeng sekaligus menjadi jalan kenaikan strata sosial. Seorang ronggeng akan berhenti menjadi ronggeng ketika menikah.

“Tetapi kalau ada permintaan nadir ya harus dituruti,” kata Tasem. Ia pernah tampil kembali meronggeng sesudah menikah. Salah seorang teman mantan ronggeng sakit. Matanya buta. Dan ia bernadar, ketika sembuh akan mengundang Ronggeng Tasem pentas. Dan Tasem memenuhinya. Masa menjadi ronggeng bagi Tasem sendiri telah lewat sekitar setengah abad yang lalu. Tetapi suaranya masih bening ketika menembang.


Dalam wangsalannya: Jampang amben, dlika kapitan galar Adoh katon wis perek during kelakon. Jampang amben, dlika kapitan galar maksudnya adalah bambu kerangka dipan. Adoh katon wis perek durung kelakon artinya jauh terlihat, sudah dekat belum juga menjadi pasangan. Wangsalan ini menggambarkan saat dimana Atmareja mengejarngejar dirinya. Suara yang indah itu pula yang telah meruntuhkan hati Atmareja. Seorang pekerja keras yang kini meninggali rumah besar hanya berdua dengan Tasem. Sementara anak-anak mereka telah memiliki rumah sendiri-sendiri.

Sumber tulisan: majalah jong Indonesia 1

Minggu, 12 Desember 2010

Pasar Senggol 2011: Sederhana Tapi Manis


Belajar dari pengalaman dan kegagalan di masa lampau adalah salah satu ciri manusia berfikiran maju. Pada pelaksanaan kegiatan yang sama di tahun 2010 ini, salah satu tokoh masyarakat di sekitar tempat berlangsungnya acara tahunan PASAR SENGGOL, Yahya Mustofa, mengungkapkan banyak hal tentang pengalaman menyelenggarakan acara ritual budaya masyarakat di sekitar Pasar Selang Kebumen. Mengikuti anjuran Bupati saat itu, H.M. Nashirudin Al Mansyur yang menginginkan penyelenggaraannya mirip atau sama dengan Sekaten Jogja ternyata berbuah kekecewaan yang berlarut. Semula ia kurang bergairah saat disinggung kemungkinan pelaksanaannya di tahun 2011.

Selain faktor keuangan yang mengalami difisit cukup besar, sampai saat ini Panitia Penyelenggara yang terdiri dari tokoh masyarakat dan perangkat desa di Selang, Adikarso dan sekitarnya belum mampu menuntaskan laporan kegiatan itu. Kendala lain adalah kegagalan menghadirkan band metal asal Bandung Power Slave" kepada para penggemar musik rock Kebumen setelah dilarang tampil oleh aparat kepolisian justru di saat akhir waktu. Pelarangan di sela check sound punggawa band yang senafas dengan grup band kondang asal Inggris, LED ZEPPELIN. Artinya, ada " keanehan " di balik pelarangan yang berdalih keamanan. Singkat kata, misi mengangkat peristiwa budaya masyarakat lokal ini "gagal".

Karena itu, setelah kami berdiskusi luas dan menemukan satu titik temu pemikiran bahwa jika peristiwa budaya itu harus dilakukan dengan cara dan suasana yang berbeda. Perbedaan skala prioritas dan yang menggembirakan adalah keterlibatan komunitas pelaku seni budaya lokal yang aktif berproses dan memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan Pasar Senggol sebagai bagian dari upaya pengembangan potensi ekonomi kreatif di Kabupaten Kebumen. Khususnya dalam hal seni pertunjukan, periklanan, kerajinan, pasar seni dan barang antik serta layanan komputer dan piranti lunak dalam sebuah "kawasan industri kreatif" bernama PASAR SENGGOL 2010. Yang Muda Ceria, Yang Tua  Bahagia. Bukan sekadar all about Kebumen. Tapi Kebumen Ngethek alias It's Truly Kebumen ... yakin gologokin.








Pasar Senggol 
Sekaten ala Kebumen yang Tengah Bersolek

Tradisi masyarakat Jawa Tengah dan DI Yogyakarta dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW cukup beragam. Di tlatah (wilayah kuasa kerajaan) Mataram masyarakat mengenal Grebek Maulid yang disebut Sekaten. Jika perayaan di Ngayogyakarta Hadiningrat (Jogja) diawali dengan kirab pusaka keraton dan berakhir dengan keluarnya gunungan kembar simbol kemakmuran. Hal serupa terjadi juga di Solo. Bedanya, simbolisasi di Keraton Surakarta  adalah tradisi "angon kebo bule" Kyai dan Nyai Slamet. Meski kurang faham dengan makna dibalik nama pasangan kerbau itu dan peristiwa yang mengiringi, nampaknya keselamatan dan kemakmuran jua yang menjadi tujuan utama tradisi tersebut.

Peristiwa sama di Desa Selang dan sekitarnya disebut Pasar Senggol. Sejak berpuluh tahun yang lalu, masyarakat di sekitar pasar tradisional desa Selang semisal Adikarso, Kalirejo, Panjer, Kebumen dan sebagainya menjadikan acara itu sebagai peristiwa budaya lokal dalam rangkaian kegiatan memperingati hari besar keagamaan Islam. Dalam peristiwa itu, muncul nama tokoh utama : Kramaleksana. Dari penuturan Yahya Mustofa, sosok Kramaleksana adalah “pahlawan” yang membuka lahan bagi sejumlah masyarakat di wilayah itu. Dia adalah prajurit Mataram yang ditugaskan bersama sejumlah pasukan lain untuk memperluas wilayah kekuasaan. Di sisi inilah beragam cerita heroik dan mistis muncul sebagai bagian tradisi masyarakat tersebut. Karena itu, model perayaannya sangat mirip dengan gaya Jogja ketimbang Solo.
   
Layaknya sebuah pasar malam, ada berbagai kegiatan yang melingkupinya. Sebagai ajang bisnis para pedagang kaki lima, bakul jajanan, pedagang mainan anak dan sebagainya. Yang tidak pernah ketinggalan adalah sebagai ajang mencari jodoh, arena perebutan kekuasaan preman dengan segala nuansanya dan beragam pernak-pernik kehidupan malam. Karena itu, dimensi religi yang seharusnya lebih menonjol dibanding tradisi yang belum dikaji dalam penelitian ilmiah acapkali terabaikan.

Yang menarik dari penyelenggaraan tahun ini adalah adanya sentuhan manajemen hiburan. Sebagai tokoh sentral, Yahya Mustofa yang tahun kemarin mendapat Upakarti Bidang Kepoloporan Pemuda, pemilik Dubex Handicraft dan sejumlah unit usaha lain serta Ketua Umum Hipando (Himpunan Perajin Anyaman Indonesia) mengundang orang yang bertugas khusus menangani manajemen hiburan tersebut. Tema pokok yang ditawarkan sebagaimana dituturkan Fauzan adalah “All about Kebumen”. Bila diterjemahkan bebas mungkin jadi pokoknya asal Kebumen”. Tema itulah yang menarik perhatian kami, Komunitas Ego. Ada kegairahan tersendiri di saat kami tengah mengangkat produk budaya lokal yang kian terpinggirkan seperti Kethoprak Pesisiran dan Rodat, Jamjaneng. Sekaligus member pencerahan kepada orang-orang di dinas kebudayaan setempat yang mendefinisikan kesenian atau budaya lokal identik dengan irama yang rancak dan dalam suguhan jingkrak-jingkrak.

Lebih bergairah lagi ketika kami mendengar langsung dari Yahya Mustofa, bahwa panggung utama akan dilengkapi fasilitas multi media. Pucuk dicinta, ulam tiba. Angan kami mengembara ke desa Brecong Buluspesantren. Di sana ada tokoh seni kethoprak pesisiran, Bambang Kethoprak. Bergegas kami kunjungi beliau dan menawarkan kerja sama. Kolaborasi antara seni drama tradisional dan teater modern dengan kesepakatan bahwa soal teknis pentas akan dibicarakan khusus dengan ahlinya, Putut AS dan kawan-kawan Komunitas Ego yang selama ini berproses di Jogja dengan nama Sanggar Ilir atau Wayang Mika L mas Kaji Habeb.
            
Entah sebab apa, kami mendapat informasi dari Seksi Hiburan, Gobeth Arief Budiman bahwa Polres Kebumen hanya memberi ijin 2 hari dari 6 hari yang dijadwalkan. Mendengar kabar itu, kami terkulai lemas. Setelah menunda sehari, akhirnya kami memberi tahu mas Bambang bahwa pentas kolaboratif di Pasar Senggol 2010 urung dilaksanakan karena alokasi waktunya sangat pendek. Hanya 30 menit. Panggung utama yang semula didesain knock down karena berada di persimpangan jalan Kutoarjo dan Cendrawasih harus dipindahkan ke lokasi aman di tanah kosong di belakang deretan tenda pedagang. Lengkap sudah kecewa kami kepada Panitia, khususnya Pemerintah Kabupaten Kebumen yang berkesan “ hanya mau mengunduh tanpa kesediaan mengunggah” atas potensi kreatifitas warga masyarakatnya. Apalagi ditambah penuturan Yahnya Mustofa, bahwa ketika mengajukan ijin kegiatan itu di Pemkab, timnya di – ping pong.

Meski pada akhirnya waktu penyelenggaraan yang dijadwalkan selama 6 hari menjadi nyata, tapi dengan persiapan yang hanya lima hari membuat gairah kami tak mudah dipulihkan. Dan karena undangan ditujukan kepada Panitia Gelar Panggung Teater (GPT) 2010, kami harus menindak-lanjuti undangan Panitia Pasar Senggol itu kepada seluruh pengisi acara yang ada di Kabupaten Kebumen.  Dari tujuh komunitas teater pengisi acara GPT 2010, hanya dua yang siap pentas yakni Teater Gerak dari STAINU dan Teater Putra Bangsa (Tetrasa) STIE Putra Bangsa Kebumen. Sebagai wujud tanggung jawab dan kepedulian, Komunitas Ego mendampingi proses latihan dan pentas Tetrasa di hari ke 2 penyelenggaraan Semarak Pasar Senggol 2010. Lega di balik kecewa mendalam. Sambil berjalan pulang kami meneriakkan “selesai sudah masa janji, selesai sudah tugas menanti “ seperti prajurit pulang dari medan laga. Sekedar melepas penat dari rasa yang kian menggumpal dari waktu ke waktu.      

Selasa, 30 November 2010

ULASAN DEWAN JURI FESTIVAL TEATER KEBUMEN 2010



Kami selaku Dewan Juri Festival Teater Kebumen 2010, yang menyaksikan pertunjukan Kategori Pelajar/SLTA sebanyak 13 grup dalam wilayah Kabupaten Kebumen dan kategori umum sebanyak 7 grup dari lingkup wilayah Kedu dan Banyumas.

Selama 2 hari, yakni tanggal 26 dan 27 Nopember 2010, kami menjadi saksi bahwa Alhamdulillah ternyata Kebumen dan sekitarnya telah memiliki insan-insan pecinta teater, yang bakal memberikan kontribusi dan manfaat bagi perkembangan seni pertunjukan.

Dalam peran sebagai juri, sebaiknya disederhanakan menjadi pengamat yang mencoba menilai secara global – dalam artian ini dasar pengamatan lebih besar porsinya pada kualitas, bukan kuantitas. Kami tidak menjadikan angka sebagai patokan, karena dalam kesenian angka dapat direlatifkan.

TEATER adalah pertunjukan seni drama yang merupakan kerja kebersamaan berbagai unsur seni. Teater adalah upacara bersama antara sesame pekerja teater dengan penontonnya untuk saling menghargai, menghormati, memuliakan seni.

Mayoritas peserta FTK 2010 masih lemah dalam mengolah pemeran, maupun menggarap suguhan dan menyajikannya kepada penonton. Bahwa ada upaya dari pekerja seni teater untuk menulis naskah sendiri – yang dilakukan oleh banyak pekerja seni di Indonesia -ndiri - yang nggarap suguhan dan menyajikannya kepada penonton. Bahwa ada upaya merupakan kecenderungan yang membahagiakan. Demikian juga semangat panitia FTK 2010 yang membuka peluang bagi peserta untuk menggubah naskah dan menggarapnya sesuai kemampuannya.

Di sini salah satu “masalah”-nya. Menulis gagasan, menuangkannya dalam bentuk naskah adalah salah satu dari langkah seni pertunjukan dalam kerja teater modern (untuk membedakannya dengan teater tradisional yang porsi improvisasinya besar). Langkah berikutnya adalah menggarap dan menyajikannya dalam pentas.

Dalam suatu tontonan manusia menjadi pelaku utama. Baik sebagai pemain yang perannya antara lain: berlatih, menjalani proses kreatif, melakukan penjelajahan untuk mencari, menemukan, mengumpulkan dan menyimpan berbagai pengalaman dan pengatahuan untuk disimpan dalam “ file harddisk” jasmani rohani kita, sebagai manusia. Kita umumnya menyebut dengan olah rasa, olah nafas, olah vokal, olah gerak dan seterusnya.

Karena manusia menjadi titik sentral maka manusia menjadi primadona dalam setiap pertunjukan, baik sebagai pekerja teater maupun penonton. Art from Heart, seni yang diolah sajikan dari hati bakal menggugah hari yang menyaksikan. Segala sesuatu yang gembira, sedih, malu, marah, membetot, menteror, suka-duka, semua menjadi atmosfir yang bersilaturahmi dalam ruang pertunjukan.

Dengan satu kalimat yang radikal, kita dapat menyatakan bahwa tontonan yang layak tonton bakal memberikan orgasme batin pada pekerja seni dan penontonnya. Sehingga berbagai serbuan emosional yang meruap dapat meng”haru”kan: pedih yang meng”haru”kan, marah, benci, kalut, senang, terbahak yang  meng”haru”kan.

Tontonan yang baik mampu mencuci jiwa pekerja teater dan penontonnya, karena merupakan suatu pengembangan spiritual. Mengajak kita memasuki segala sesuatu yang sebelumnya mungkin belum terasa, membawa dalam kehidupan yang menseimbangkan kerja keras jasmani dengan perenungan rohani, memperoleh makna kehidupan.
Ulasan Untuk Pelajar:

1.   Penataan artistic peserta no 3 (SMK Maarif 4 Kebumen) mampu menghadirkan suasana yang menguatkan pertunjukan yang dibawanya. Minimalis tapi penuh. Spektakel yang muncul baik dari personal actor maupun property panggung menyatu dalam garis yang harmonis.
2.   Sosok Lena dalam peserta no 5 (MAN Kutowinangun) ini mampu menghadirkan karakter yang kuat untuk tokoh tersebut. Penjiwaan meski masih sederhana, sagat membantu keseluruhan jalannya pertunjukan.
3.   Konsep penyutradaraan dalam pertunjukan no 2 (SMAN Rowokele) terlihat konsisten dari awal sampai akhir. Mempunyai tempo dan irama permainan yang sesuai dengan dramatisasi pertunjukan. Kekuarannya adalah improvisasi dalam menafsirkan naskah untuk menemukan sesuatu yang baru dan kontekstual.
4.   Menyajikan sebuah pertunjukan teater, berarti menghadirkan secara keseluruhan pertunjukan secara utuh dari tiap detail bagiannya. Kekurangan di satu  bagian kecil – meski di sisi lain admeski kan secara utuh dari tiap detail bagiannya. kekuarangan si dalam menafsirkan naskah untuk menemukan sesuatua yang terlihat kuat – akan sangat mempengaruhi kesempurnaan dari pertunjukan tersebut. Konsep dan interpretasi naskah, penggarapan actor, pemanfaatan panggung, blocking yang sesuai kebutuhan, komposisi yang dinamis serta irama/tempo yang mengalir wajar adalah syarat minimal bagimana penyajian mampu dinikmati penonton dengan baik.


Ulasan Untuk Kategori Umum:

1.   Dengan penataan artistic no 3. (Komunitas Teater Jodo Purwokerto) mampu menghadirkan suasana yang menjadi isi pertunjukan. Minimalis tapi masing-masing property ditempatkan dengan serasi sesuai manfaat dan kebutuhannya. Sangat membantu dramatisasi dari para actor di atas panggung.
2.   Aktor dalam teater, minimal mampu menjadi kendaraan bagi pertunjukan. Dan actor harus saling terkait dan membangun, tidak main untuk dirinya sendiri. Kekukatan yang ada pada diri actor harus mempengaruhi dan menghadirkan kedinamisan seluruh bagian pertunjukan dan actor lainnya.
3.   Konsep yang digagas sutradara harus mampu menyampaikan muatan naskah pada penonton. Perhatian dari tiap detil bagian pertunjukannya mampu terangkat sesuai porsinya, atau tidak boleh njomplang.
4.   Penyajian yang baik dari sebuah pertunjukan tidak harus riuh rendah dan penuh sesak di atas panggung. Tetapi menempatkan dan member ruang yang sesuai serta penggunaan media secukupnya dari interpretasi naskah akan terasa lebih baik. Setiap bagian dihadirkan dengan alas an dan ide kuat untuk kesempurnaan pertunjukan tersebut. Lebih baik minim tapi kental dari pada over tapi memecah focus.




 DAFTAR PESERTA
FESTIVAL TEATER KEBUMEN 2010

1.   KATEGORI PELAJAR SLTA SEDERAJAT:

No. Undi

NAMA PESERTA

1.
MAN GOMBONG

2.
SMAN ROWOKELE

3.
SMK MAARIF 4 KEBUMEN

4.
SMK BATIK SAKTI 1 KEBUMEN

5.
MAN KUTOWINANGUN

6.
SMAN 2 KEBUMEN

7.
SMK NAWA BAKTI KEBUMEN

8.
SMKN 2 KEBUMEN

9.
SMAN KLIRONG

10.
MAN 2 KEBUMENAN KLIRONGEN KEBUMENMENG
AJAT:

11.
MAN 1 KEBUMEN

12.
SAKA PANUWISATA KEBUMEN

13.
SMKN KARANGANYAR





2.   KATEGORI UMUM:

No. Undi

NAMA PESERTA
1.
TEATER SURYA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2.
KOMUNITAS TEATER PURWOREJO
3.
KOMUNITAS TEATER JODO PURWOKERTO
4.
TEATER GERAK STAINU KEBUMEN
5.
TEATER STTOLGTA KEBUMEN
6.
TEATER BAHRUL ULUM KEBUMEN
7.
TEATER STIE PUTRA BANGSA KEBUMEN


  


PENGUMUMAN DAN PENETAPAN KEPUTUSAN DEWAN JURI
FESTIVAL TEATER KEBUMEN 2010

KATEGORI PELAJAR:



a.    Penata Artistik Terbaik
:
No. 3 (SMK Maarif 4 Kebumen)
b.   Aktor/Aktris Terbaik
:
No. 5 (MAN Kutowinngun)
c.    Sutradara Terbaik
:
No. 2 (SMAN Rowokele)
d.   Penyaji Terbaik III
:
No. 8 (SMAN Klirong)
e.    Penyaji Terbaik II
:
No. 3 (SMK Maarif 4 Kebumen)
f.     Penyaji Terbaik I
:
No. 2 (SMAN Rowokele)




KATEGORI UMUM :

a.    Penata Artistik Terbaik
:
No. 3 (Komunitas Teater Jodo Purwokerto)
b.   Aktor/Aktris Terbaik
:
No. 1 (Teater Surya UMP Purworejo)
c.    Sutradara Terbaik
:
No. 2 (Komunitas Teater Purworejo)
d.   Penyaji Terbaik III
:
No. 5 (Teater STTOLGTA Kebumen)
e.    Penyaji Terbaik II
:
No. 2 (Komunitas Teater Purworejo)
f.     Penyaji Terbaik I
:
No. 2 (Komunitas Teater Purworejo)



Catatan Panitia:

Anggota Dewan Juri Festival Teater Kebumen 2010:ter Purworejo)jo)kerto) JURI
ecah fokus.ih erpretasi naskah kank boleh a/tempo yang mengalir wajar adalah syara
1.   Uki Bayu Sedjati (Komunitas Teater Bulungan Jakarta)
2.   Retno Budiningsih (Taman Ismail Marzuki/ Perpustakaan HB Yassin Jakarta)
3.   Salim Emde (Sanggar Sunan UIN/ Teater Jali Yogyakarta, pemenang Lomba Penulisan Naskah Cerita Prov. DI Yogyakarta 2002).
4.   Ucok Hasbie (Sanggar Ilir Yogyakarta/ FoPSeT Kebumen khusus untuk Kategori Pelajar).
@totokaryanto_kebumen. Diberdayakan oleh Blogger.